by

Gelagat Pandir Pemuda Indonesia

Sidoarjo Hari ini sekali lagi kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Rasa nya sudah seringkali memperingati sebuah periode penting yaitu berdirinya Boedi Oetomo, 20 Mei 1908. Tapi ya begitu, sekedar Ceremonial belaka lah. Jadi Status di Instagram, Twiter, Judul Halaman Koran, lalu selesai. Jika menengok pencapaian Bangsa Indonesia hari ini, pantas rasanya jika dipenuhi oleh rasa frustasi dan pesimis tentang memaknai arti dari sebuah kata “Kebangkitan”.

Kalaupun boleh memilih, penulis lebih sreg kalau Hari Kebangkitan Nasional ya tanggal 16 Oktober 1905, 3 Tahun sebelum adanya Boedi Oetomo, Hari dimana Sarekat Islam didirikan. Organisasi pedagang-pedagang islam yang menentang politik Belanda memberi keleluasaan masuknya pedagang asing untuk menguasai perekonomian rakyat. Seperti hari-hari sekarang ini dimana kata, Cukong, Antek asing, Keperbihakan, Hutang Negara, TKA China dsb sangat ramai diperbincangkan. Cocok. Persis.

Tetapi penulis sedang tidak ingin membahasnya, penulis ingin lebih mengerucutkan pada sebuah pembahasan tentang peran Pemuda dalam memaknai Hari Kebangkitan Nasional. Karena bicara tentang kebangkitan maka kita akan bicara tentang bagaimana gerakan pemuda. Intelektual muda sangat penting artinya bagi kebangkitan suatu bangsa. Ingat, intelektual muda yang lahir dari ideologi bangsa dan diberikan ruang untuk mengekspresikan dirinya, bukan pemuda yang dipaksakan agar nampak intelek karena lahir dari oligarki penguasa ya. Hmm..

Pemuda adalah Iron Stock bagi sebuah Peradaban. Dalam kepemimpinan Khalifah Umar Bin Khatab misalnya, Beliau tidak jarang meminta pendapat seorang pemuda bernama Ibnu Abbas dan menjadikannya penasehat yang paling dipercaya.

Hari ini kita dihadapkan oleh generasi muda yang sulit untuk bisa diharapkan. Tidak ada pernah lagi kita merasakan hadirnya Mahasiswa sebagai Agent Of Change, Agent Of Social Control. Peran keduanya rasa-rasanya kok malah digantikan oleh akun-akun anonymous di Timeline Platform Sosial Media, yang tentu saja masih sangat jauh dari kata bertanggungjawab, walaupun harus diakui bahwa mereka lebih memberikan efek daripada gerakan Mahasiswa secara nyata. Degradasi pergerakan Mahasiswa.

Terakhir rasanya gerakan Mahasiswa berujung Chaos dan berakhir dengan melahirkan beberapa tokoh Selebgram.

Kebangkitan Nasional selamanya hanya akan menjadi Peringatan Ceremonial belaka tanpa peran pemuda. Gerakan-gerakan yang revolusioner, radikal, dan konsisten tentunya. Jangan seperti Partai yang mengaku “Partai Pemuda” yang teriak lantang sebelum Pemilu lantas menjadi Buzzer saat dekat dengan penguasa. Mereduksi arti dari “Gerakan Pemuda” jadinya. Pemuda kemudian menjadi Apatis dan Hedon, melarikan segala keluh kesahnya bukan dengan Buku dan Dialog namun dengan kehidupan Maya.

Wahay pemuda, sesekali pergilah ke Gunung, matikan Sosial Media-mu seminggu atau dua minggu. Cintai Negara ini, cintai bangsa ini, mendekatlah dengan rakyatnya, lebih dekat dan nyata.

Penulis : Taufan Wibowo

News Feed