by

Santri, Pesantren dan Perannya Bagi Indonesia

Perdananews – Membahas soal santri memang menjadi hal yang selalu seru, betapa sepenggal cerita kehidupan selama mereka mondok di pesantren selalu menjadi sumber inspirasi bagi semua orang, sebab tidak semua dari mereka yang berangkat ke pondok akan selesai sampai betul betul lulus, kebanyakan dari mereka gugur diawal, ada yang cuma sampai tengah jalan, ada yang sampai betul betul lulus. Dalam perjalanan menuntut ilmu itulah mereka dituntun menemukan jati diri yang sebenarnya, setiap hari dibekali dengan ilmu pengetahuan, sehingga ketika mereka selesai mereka telah menguasai secara lengkap kemampuan intelektual, spritual, dan emosional secara matang dan siap untuk terlibat aktif di tempat dimana mereka tinggal.

Dan jangan lupa bahwa dalam petualangan mengaruhi keilmuan di pondok pesantren mereka mendapat salah satu ilmu yang sangat penting, yaitu ilmu kehidupan, ilmu menjalani hidup dan menghadapi hidup. Itulah santri. Tidak semua orang bisa mendapatkan predikat gelar tersebut, sebuah gelar yang melekat pada diri seseorang yang mondok di pondok pesantren dan belajar agama dari para kiyai dan ustadz selama bertahun tahun, menekuni ilmu akhirat dan juga ilmu dunia dalam semua dimensi keilmuaan. 

Banyak literatur yang membahas tentang santri, tapi saya ingin membahas dari perspektif korelasi antara santri dan indonesia, agar pemahaman kita terhadap santri tidak sebatas kulit luar saja bahwa santri hanya bisa mengaji dan sembahyang, lebih dari pada itu santri berperan sangat aktif dalam membangun bangsa dan negara, dalam segala aspek.

Jika kita melihat rentang sejarah, santri justru telah ada sebelum negara ini berdiri, ratusan bahkan ribuan pondok pesantren seantero nusantara telah berdiri jauh sebelum republik ini lahir, bahkan setelah penjajah datang, santri berada digarda terdepan melawan para penjajah bersama para kiyai kiyai pada saat itu. Jubah dan sorban para santri dan kiyai menjadi saksi betapa gigihnya mereka mengusir penjajah, banyak dari mereka yang gugur sebagai syuhada.

Baca Juga : Kuda Gelap, Catatan Dahlan Iskan

Uniknya, setelah Indonesia merdeka dari tangan penjajah, para santri dan kiyai yang berjuang bersama merebut kemerdekaan tidak satupun yang meminta jabatan, mereka tidak sekalipun tertarik ke tempat tempat kekuasaan, mereka semua malah kembali ke pondok, inilah salah satu ajaran paling melekat dan mendarahdaging di pondok pesantren, yaitu keikhlasan.

Ironi yang membuat saya sedih adalah kurangnya perhatian negara kepada santri selama ini, setelah sumbangsih yang begitu besar terhadap negara, santri tidak memiliki perhatian khusus bahkan terkesan seperti dianaktirikan oleh negara, bahkan setelah hampir 75 tahun merdeka, UU pesantren baru terbit di penghujung 2019.

Sampai saat ini, peran santri terhadap kemajuan bangsa dan negara tidak perlu dipertanyakan, betapa banyak sumbangsih tenaga, pemikiran, ide serta keteladanan yang diberikan. Betapa kader kader pondok pesantren tersebar di pelosok negeri mengajarkan ilmunya tanpa pamrih, menurut saya salah satu sumbangsih terbesar santri adalah pendidikan. Mereka rela ke pelosok pelosok terpencil untuk mengajar dan mendidik sampai akhirnya lahirlah kader kader terbaik bangsa dari rahim para santri. 

Dalam perspektif itulah, santri dan indonesia adalah satu tubuh yang tidak bisa dipisahkan, santri adalah indonesia dan indonesia adalah santri. Santri adalah benteng pertahanan indonesia yang siap menjaga keutuhan negara setiap saat. Karnanya memandang sebelah mata seorang santri adalah sebuah kekeliruan yang nyata, betapa sejarah membuktikan bahwa para santri memiliki hubungan emosional yang sangat kuat dan erat dengan negara, Kalau kita mau melihat Indonesia yang sebenarnya maka santrilah yang paling berhak menjadi simbol keindonesiaan.

Baca Juga : Gelagat Pandir Pemuda Indonesia

Secara berani saya berpendapat bahwa santrilah yang paling indonesia, tidak ada yang lebih indonesia dari santri, di pondok pesantrenlah 4 pilar kebangsaan terimplementasi secara ril dan baik. Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI semuanya melekat dalam diri seorang santri, jangan tanya soal kebhinnekaan, di pondok pesantren semua suku danan ras dari penjuru nusantara berkumpul menuntut ilmu bersama, tidur, makan bersama dan tentu semua itu tetap dalam satu naungan, Indonesia.

Setelah hampir 75 tahun merdeka, inilah saatnya wacana keindonesiaan diisi oleh para santri, krisis kepemimpinan saat ini membutuhkan pemikiran dan ide para santri, jangan pernah meragukan leadership seorang santri, sebab mereka sudah khotam soal leadership, di pondok pesantren mereka dididik menjadi pemimpin dengan baik. 

Sekali lagi, santri dan indonesia adalah dua arah mata uang yang tidak bisa dipisahkan, sekian. 

Penulis : Saad Muchtar

News Feed